Kabarmadrasah.com- Leadership#5
Tidak ada pemimpin yang sudah selesai belajar. Ketika seseorang merasa dirinya sudah paling tahu, paling berpengalaman, dan tidak lagi membutuhkan masukan, pada saat itulah pertumbuhan kepemimpinannya mulai berhenti.
Dunia
pendidikan terus bergerak. Cara belajar murid berubah. Teknologi berkembang.
Kebijakan pendidikan mengalami penyesuaian. Kebutuhan masyarakat terhadap
madrasah semakin kompleks. Dalam situasi seperti itu, seorang kepala madrasah
tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Ia perlu memiliki Growth
Mindset—cara berpikir yang meyakini bahwa kemampuan dapat terus
dikembangkan melalui proses belajar, pengalaman, evaluasi, dan keberanian
menghadapi tantangan.
Konsep Growth
Mindset menjadi unsur keempat dalam 5G Leadership yang disampaikan
Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I.,
M.Pd.I., dalam pembinaan Kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah,
Kecamatan Undaan.
Pemimpin
Bukan Orang yang Selalu Benar
Salah satu
ciri pemimpin dengan Growth Mindset adalah kesediaannya mengakui bahwa
dirinya masih memiliki kekurangan.
Mengakui kekurangan bukan tanda kelemahan. Justru
sebaliknya, keberanian mengatakan "saya masih perlu belajar"
merupakan bentuk kedewasaan seorang pemimpin.
Kepala
madrasah tidak harus mengetahui semua hal.
Ia tidak harus selalu menjadi orang yang paling
ahli. Yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk belajar, bertanya,
mendengarkan, dan memperbaiki diri. Pemimpin yang memiliki Growth Mindset
tidak merasa harga dirinya berkurang ketika menerima kritik. Ia justru
menjadikan masukan sebagai bahan untuk melakukan perbaikan.
Pengalaman
Penting, tetapi Tidak Selalu Cukup
Pengalaman
merupakan modal penting dalam kepemimpinan.
Namun pengalaman tidak boleh berubah menjadi alasan
untuk menolak perubahan. Seseorang dapat memiliki pengalaman puluhan tahun,
tetapi tetap membutuhkan pembelajaran baru karena tantangan yang dihadapi hari
ini belum tentu sama dengan tantangan di masa lalu.
Dunia
pendidikan hari ini menghadirkan berbagai persoalan baru: perkembangan
teknologi, perubahan karakter murid, kebutuhan pembelajaran yang semakin
beragam, serta tuntutan kolaborasi yang semakin tinggi. Karena itu, pemimpin
perlu memiliki sikap: "Apa yang bisa saya pelajari dari perubahan
ini?"
Bukan: "Mengapa semuanya harus berubah?"
Perbedaan cara berpikir tersebut sangat menentukan
bagaimana seorang pemimpin merespons perubahan.
Kesalahan
Bukan Akhir dari Perjalanan
Dalam
kepemimpinan, kesalahan mungkin terjadi. Program tidak selalu berhasil. Keputusan
tidak selalu menghasilkan dampak seperti yang diharapkan. Strategi yang
diperkirakan tepat bisa saja ternyata kurang efektif. Pemimpin dengan Growth
Mindset tidak berhenti pada penyesalan.
Ia melakukan refleksi: Apa yang terjadi? Mengapa
hal itu terjadi?
Apa yang dapat dipelajari? Apa yang harus
diperbaiki?
Dengan cara tersebut, kegagalan tidak berhenti
sebagai kegagalan. Ia berubah menjadi pengalaman belajar.
Dari
"Siapa yang Salah?" Menjadi "Apa yang Bisa Dipelajari?"
Cara seorang
pemimpin merespons masalah dapat menunjukkan pola pikirnya. Ketika sebuah
program gagal, pemimpin dengan pola pikir tertutup mungkin langsung mencari
siapa yang harus bertanggung jawab.
Sementara
pemimpin dengan Growth Mindset akan lebih dahulu berusaha memahami
persoalannya. Bukan berarti kesalahan dibiarkan. Akuntabilitas tetap penting. Namun,
tujuan evaluasi bukan sekadar menemukan pihak yang salah. Evaluasi harus
menghasilkan perbaikan.
Pertanyaan
yang lebih produktif adalah: "Apa yang harus kita lakukan agar
kesalahan yang sama tidak terulang?"
Inilah budaya belajar yang perlu dibangun di
madrasah.
Kepala
Madrasah sebagai Pembelajar
Seorang kepala madrasah seharusnya tidak hanya
menjadi pemimpin bagi orang lain, tetapi juga menjadi pembelajar bagi
dirinya sendiri.
Belajar dapat dilakukan melalui banyak cara.
·
Membaca.
·
Mengikuti pelatihan.
·
Berdiskusi dengan sesama kepala madrasah.
·
Mendengarkan guru.
·
Mengamati praktik baik dari madrasah lain.
·
Mengevaluasi program.
·
Bahkan, belajar dari murid.
Sebab terkadang, pertanyaan sederhana seorang murid
justru dapat membuka perspektif baru bagi seorang pendidik.
Pemimpin yang terus belajar akan lebih mudah
membangun budaya belajar di lingkungan yang dipimpinnya.
Growth
Mindset dan Guru
Budaya Growth
Mindset tidak akan berkembang jika hanya dimiliki kepala madrasah. Ia perlu
ditularkan kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan. Guru perlu merasa aman
untuk mencoba pendekatan baru. Guru perlu memiliki ruang untuk berdiskusi
tentang kesulitan pembelajaran. Guru perlu mendapatkan kesempatan untuk
mengembangkan kompetensinya. Dan ketika sebuah inovasi belum berhasil, guru
perlu didorong untuk memperbaikinya, bukan langsung takut mencoba lagi.
Dengan
demikian, madrasah menjadi tempat di mana belajar tidak hanya menjadi tugas
murid, tetapi menjadi budaya seluruh warga madrasah. Tantangan Bukan Ancaman,
tetapi Ruang Bertumbuh
Setiap
madrasah memiliki tantangan masing-masing.
·
Ada keterbatasan sumber daya.
·
Ada persoalan kedisiplinan.
·
Ada perbedaan kemampuan guru.
·
Ada tuntutan administrasi.
·
Ada perubahan kebijakan.
·
Ada harapan masyarakat yang semakin tinggi.
Pemimpin
dengan Growth Mindset tidak memandang semua tantangan sebagai ancaman. Tantangan
dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Keterbatasan dapat mendorong
kreativitas.
Kritik dapat menjadi bahan evaluasi. Kegagalan
dapat menjadi pelajaran. Perubahan dapat menjadi peluang inovasi.
Dengan cara pandang seperti itu, masalah tidak
selalu harus dihindari. Sebagian masalah justru perlu dihadapi agar organisasi
menjadi lebih matang.
Pemimpin
yang Mau Mendengarkan
Growth
Mindset juga membutuhkan kerendahan hati untuk mendengarkan. Pemimpin
tidak akan bertumbuh jika hanya mau mendengar orang yang selalu setuju
dengannya. Masukan dari guru, tenaga kependidikan, orang tua, bahkan murid
dapat menjadi sumber pembelajaran. Tentu tidak semua masukan harus diterima
begitu saja. Pemimpin tetap perlu menggunakan pertimbangan, data, nilai, dan
kebijakan dalam mengambil keputusan.
Namun, bersedia
mendengarkan merupakan langkah awal untuk melihat persoalan dari sudut
pandang yang lebih luas. Dari Pemimpin Pembelajar Menjadi Organisasi
Pembelajar Ketika kepala madrasah memiliki Growth Mindset, dampaknya
tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pola pikir tersebut dapat membentuk budaya
organisasi.
·
Guru terdorong untuk belajar.
·
Tim terbiasa melakukan refleksi.
·
Kesalahan dibahas untuk diperbaiki.
·
Ide baru mendapatkan ruang.
·
Praktik baik dibagikan.
·
Keberhasilan tidak membuat organisasi cepat puas.
Inilah yang kemudian melahirkan madrasah
pembelajar. Madrasah pembelajar bukan madrasah yang tidak pernah memiliki
masalah.
Sebaliknya, madrasah pembelajar adalah madrasah
yang mampu belajar dari masalah yang dihadapinya.
Growth
Mindset dan Kepemimpinan Berbasis Cinta
Gagasan Growth
Mindset juga memiliki keterkaitan dengan tema Kurikulum Berbasis Cinta
yang turut menjadi bagian dari pembinaan. Materi tersebut menekankan pentingnya
memulai perubahan dari orang dewasa. Artinya, sebelum menuntut murid untuk
menjadi pembelajar, guru dan pemimpin perlu menunjukkan terlebih dahulu bagaimana
menjadi pembelajar. Sebelum meminta murid berani mencoba, orang dewasa perlu
memberi contoh keberanian untuk mencoba. Sebelum mengajarkan murid menerima
kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, guru dan pemimpin juga perlu
menunjukkan sikap yang sama. Perubahan pendidikan akhirnya kembali kepada
keteladanan.
Sebuah Refleksi
Ada beberapa pertanyaan yang dapat menjadi cermin
bagi seorang pemimpin:
1. Kapan terakhir kali saya
benar-benar belajar sesuatu yang baru?
2. Apakah saya terbuka menerima
kritik dan masukan?
3. Bagaimana saya merespons ketika
sebuah program tidak berhasil?
4. Apakah saya memberi ruang kepada
guru untuk mencoba dan berinovasi?
5. Apakah saya lebih sering mencari
kesalahan guru atau mencari pembelajaran dari sebuah kesalahan?
6. Apakah saya menjadi contoh
sebagai pembelajar bagi warga madrasah?
Tidak ada
pemimpin yang sempurna. Namun, selalu ada pemimpin yang bersedia menjadi
lebih baik. Dan mungkin, di situlah inti dari Growth Mindset.
Pemimpin
yang Terus Bertumbuh
Kepemimpinan
bukanlah titik akhir. Ia adalah perjalanan belajar yang tidak pernah selesai. Grand
Why memberikan alasan besar untuk memimpin. Gift mengajarkan
pentingnya memberikan manfaat kepada orang lain. Grind mengajarkan
ketekunan untuk terus berjuang. Dan Growth Mindset mengingatkan bahwa
sepanjang perjalanan tersebut, seorang pemimpin harus terus belajar dan
bertumbuh. Sebab madrasah tidak akan berkembang jika pemimpinnya berhenti
berkembang. Guru akan sulit membangun budaya belajar jika pemimpinnya sendiri
tidak mau belajar. Dan perubahan akan sulit terjadi jika orang dewasa di
dalamnya takut terhadap perubahan.
Maka,
menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu tahu semua jawaban. Menjadi
pemimpin berarti bersedia terus mencari jawaban, belajar dari pengalaman,
mendengarkan orang lain, dan memperbaiki diri. Karena pemimpin yang terus
bertumbuh akan melahirkan tim yang terus belajar. Dan tim yang terus belajar
akan membawa madrasah menuju masa depan yang lebih baik.
Itulah Growth Mindset: bukan merasa sudah menjadi
yang terbaik, tetapi memiliki keberanian untuk terus menjadi lebih baik.
Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "5G Leadership: Memimpin dengan Hati, Bertumbuh untuk Peradaban" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi.