Istiqamah Bersyukur dan Berdzikir: Jalan Menuju Ketenangan Hati
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi berbagai kondisi: kadang lapang, kadang sempit; kadang bahagia, kadang penuh ujian. Dalam keadaan apa pun, seorang hamba dianjurkan untuk selalu istiqamah dalam bersyukur kepada Allah SWT. Rasa syukur bukan hanya diucapkan ketika memperoleh nikmat, tetapi juga ketika menghadapi kesulitan, karena semua yang terjadi adalah bagian dari ketetapan dan hikmah Allah.
Salah satu bentuk syukur yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak dzikir kepada Allah. Dzikir merupakan amalan sederhana, namun memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan batin manusia. Dengan berdzikir, hati menjadi tenang dan tenteram. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Itulah kalimat ajakan Ustadz Noor Arief dalam membuka acara Ngaji Ahad sore di Masjid Baitul Muttaqin Sambung Undaan Kudus, 08 Maret 2026
Menariknya, dalam kehidupan manusia banyak hal yang jika diulang-ulang akan terasa membosankan. Namun terdapat satu hal yang justru semakin indah ketika diulang, yaitu membaca Al-Qur’an. Setiap kali dibaca, Al-Qur’an memberikan ketenangan, pemahaman baru, dan kedalaman makna yang berbeda. Karena itulah membaca Al-Qur’an secara rutin juga menjadi salah satu sebab kuatnya hafalan seseorang. Semakin sering dibaca, semakin melekat ayat-ayatnya dalam ingatan.
Selain memberikan ketenangan hati, ada pula beberapa golongan manusia yang disebut sebagai orang-orang yang dirindukan oleh surga. Di antara mereka adalah:
1. Tāliyul Qur’an, yaitu orang yang gemar membaca Al-Qur’an.
2. Hāfidzul Lisān, orang yang mampu menjaga lisannya dari perkataan buruk.
3. Muth‘imul Jī‘ān, orang yang suka memberi makan kepada orang yang lapar., lebih-lebih.memberikan berbuka puasa Romadhon
4. Shā’im Ramadhān, orang yang menjalankan puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan.
Berbicara tentang puasa, dalam istilah bahasa disebut al-imsāk, yang berarti menahan diri. Dalam syariat Islam, puasa memiliki dua makna penahanan.
Pertama, menahan diri dari segala hal yang secara hukum membatalkan puasa.
Kedua, menahan diri dari berbagai perbuatan yang dapat merusak nilai dan pahala puasa.
Hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik berkaitan dengan masuknya sesuatu melalui sembilan lubang pada tubuh manusia, yaitu dua telinga, dua mata, satu hidung, satu mulut, satu lubang kemaluan, dan satu lubang anus. Oleh karena itu, seorang yang berpuasa harus menjaga diri dari hal-hal yang dapat menyebabkan batalnya puasa.
Namun, selain pembatal secara fisik, ada pula perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa. Perkara ini berasal dari perbuatan anggota tubuh, khususnya lisan dan pandangan. Di antaranya adalah:
1. Kidzib, yaitu berbohong atau berkata dusta.
2. Ghibah, membicarakan keburukan orang lain.
3. Namimah, mengadu domba atau memprovokasi permusuhan.
4. Sumpah palsu, bersumpah tidak benar untuk kepentingan tertentu.
5. Melihat dengan syahwat, yaitu memandang sesuatu dengan dorongan nafsu yang tidak dibenarkan.
Karena itu, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri dari perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah.
Dalam syariat Islam, puasa juga memiliki beberapa syarat wajib. Seseorang diwajibkan berpuasa apabila ia memenuhi syarat berikut: beragama Islam, telah baligh, memiliki kemampuan atau kekuatan untuk berpuasa, tidak sedang mengalami haid atau nifas bagi perempuan, serta berakal sehat.
Pada akhirnya, puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa karena bersifat sirriyah, yaitu ibadah yang sangat tersembunyi. Orang lain mungkin tidak mengetahui secara pasti apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Hanya Allah SWT dan para malaikat pencatat amal yang benar-benar mengetahui keikhlasan seseorang dalam menjalankan puasa.
Oleh sebab itu, ibadah puasa menjadi sarana penting untuk melatih kejujuran, keikhlasan, serta kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Dengan istiqamah bersyukur, memperbanyak dzikir, mencintai Al-Qur’an, dan menjaga lisan serta perbuatan, seorang muslim diharapkan mampu meraih keberkahan hidup serta menjadi hamba yang dirindukan oleh surga
Disarikan dari : Ngaji Ahad sore Masjid Baitul Muttaqin
Narasumber: Ustadz Noor Arief ( Guru Madin NU Irsyadul Aulad Assalafiyyah Undaan Lor Kudus)












