Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News

27 August 2026

Growth Mindset: Pemimpin yang Tidak Pernah Berhenti Bertumbuh

 Kabarmadrasah.com- Leadership#5

Tidak ada pemimpin yang sudah selesai belajar. Ketika seseorang merasa dirinya sudah paling tahu, paling berpengalaman, dan tidak lagi membutuhkan masukan, pada saat itulah pertumbuhan kepemimpinannya mulai berhenti.


Dunia pendidikan terus bergerak. Cara belajar murid berubah. Teknologi berkembang. Kebijakan pendidikan mengalami penyesuaian. Kebutuhan masyarakat terhadap madrasah semakin kompleks. Dalam situasi seperti itu, seorang kepala madrasah tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman masa lalu. Ia perlu memiliki Growth Mindset—cara berpikir yang meyakini bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, pengalaman, evaluasi, dan keberanian menghadapi tantangan.

Konsep Growth Mindset menjadi unsur keempat dalam 5G Leadership yang disampaikan Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam pembinaan Kepala MI di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah, Kecamatan Undaan.

 

Pemimpin Bukan Orang yang Selalu Benar

Salah satu ciri pemimpin dengan Growth Mindset adalah kesediaannya mengakui bahwa dirinya masih memiliki kekurangan.

Mengakui kekurangan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, keberanian mengatakan "saya masih perlu belajar" merupakan bentuk kedewasaan seorang pemimpin.

Kepala madrasah tidak harus mengetahui semua hal.

Ia tidak harus selalu menjadi orang yang paling ahli. Yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk belajar, bertanya, mendengarkan, dan memperbaiki diri. Pemimpin yang memiliki Growth Mindset tidak merasa harga dirinya berkurang ketika menerima kritik. Ia justru menjadikan masukan sebagai bahan untuk melakukan perbaikan.

 

Pengalaman Penting, tetapi Tidak Selalu Cukup

Pengalaman merupakan modal penting dalam kepemimpinan.

Namun pengalaman tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menolak perubahan. Seseorang dapat memiliki pengalaman puluhan tahun, tetapi tetap membutuhkan pembelajaran baru karena tantangan yang dihadapi hari ini belum tentu sama dengan tantangan di masa lalu.

Dunia pendidikan hari ini menghadirkan berbagai persoalan baru: perkembangan teknologi, perubahan karakter murid, kebutuhan pembelajaran yang semakin beragam, serta tuntutan kolaborasi yang semakin tinggi. Karena itu, pemimpin perlu memiliki sikap: "Apa yang bisa saya pelajari dari perubahan ini?"

Bukan: "Mengapa semuanya harus berubah?"

Perbedaan cara berpikir tersebut sangat menentukan bagaimana seorang pemimpin merespons perubahan.

 

Kesalahan Bukan Akhir dari Perjalanan

Dalam kepemimpinan, kesalahan mungkin terjadi. Program tidak selalu berhasil. Keputusan tidak selalu menghasilkan dampak seperti yang diharapkan. Strategi yang diperkirakan tepat bisa saja ternyata kurang efektif. Pemimpin dengan Growth Mindset tidak berhenti pada penyesalan.

Ia melakukan refleksi: Apa yang terjadi? Mengapa hal itu terjadi?

Apa yang dapat dipelajari? Apa yang harus diperbaiki?

Dengan cara tersebut, kegagalan tidak berhenti sebagai kegagalan. Ia berubah menjadi pengalaman belajar.

Dari "Siapa yang Salah?" Menjadi "Apa yang Bisa Dipelajari?"

Cara seorang pemimpin merespons masalah dapat menunjukkan pola pikirnya. Ketika sebuah program gagal, pemimpin dengan pola pikir tertutup mungkin langsung mencari siapa yang harus bertanggung jawab.

Sementara pemimpin dengan Growth Mindset akan lebih dahulu berusaha memahami persoalannya. Bukan berarti kesalahan dibiarkan. Akuntabilitas tetap penting. Namun, tujuan evaluasi bukan sekadar menemukan pihak yang salah. Evaluasi harus menghasilkan perbaikan.

Pertanyaan yang lebih produktif adalah: "Apa yang harus kita lakukan agar kesalahan yang sama tidak terulang?"

Inilah budaya belajar yang perlu dibangun di madrasah.

         

Kepala Madrasah sebagai Pembelajar

Seorang kepala madrasah seharusnya tidak hanya menjadi pemimpin bagi orang lain, tetapi juga menjadi pembelajar bagi dirinya sendiri.

Belajar dapat dilakukan melalui banyak cara.

·        Membaca.

·        Mengikuti pelatihan.

·        Berdiskusi dengan sesama kepala madrasah.

·        Mendengarkan guru.

·        Mengamati praktik baik dari madrasah lain.

·        Mengevaluasi program.

·        Bahkan, belajar dari murid.

Sebab terkadang, pertanyaan sederhana seorang murid justru dapat membuka perspektif baru bagi seorang pendidik.

Pemimpin yang terus belajar akan lebih mudah membangun budaya belajar di lingkungan yang dipimpinnya.

 

Growth Mindset dan Guru

Budaya Growth Mindset tidak akan berkembang jika hanya dimiliki kepala madrasah. Ia perlu ditularkan kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan. Guru perlu merasa aman untuk mencoba pendekatan baru. Guru perlu memiliki ruang untuk berdiskusi tentang kesulitan pembelajaran. Guru perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya. Dan ketika sebuah inovasi belum berhasil, guru perlu didorong untuk memperbaikinya, bukan langsung takut mencoba lagi.

Dengan demikian, madrasah menjadi tempat di mana belajar tidak hanya menjadi tugas murid, tetapi menjadi budaya seluruh warga madrasah. Tantangan Bukan Ancaman, tetapi Ruang Bertumbuh

Setiap madrasah memiliki tantangan masing-masing.

·        Ada keterbatasan sumber daya.

·        Ada persoalan kedisiplinan.

·        Ada perbedaan kemampuan guru.

·        Ada tuntutan administrasi.

·        Ada perubahan kebijakan.

·        Ada harapan masyarakat yang semakin tinggi.

Pemimpin dengan Growth Mindset tidak memandang semua tantangan sebagai ancaman. Tantangan dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Keterbatasan dapat mendorong kreativitas.

Kritik dapat menjadi bahan evaluasi. Kegagalan dapat menjadi pelajaran. Perubahan dapat menjadi peluang inovasi.

Dengan cara pandang seperti itu, masalah tidak selalu harus dihindari. Sebagian masalah justru perlu dihadapi agar organisasi menjadi lebih matang.

 

Pemimpin yang Mau Mendengarkan

Growth Mindset juga membutuhkan kerendahan hati untuk mendengarkan. Pemimpin tidak akan bertumbuh jika hanya mau mendengar orang yang selalu setuju dengannya. Masukan dari guru, tenaga kependidikan, orang tua, bahkan murid dapat menjadi sumber pembelajaran. Tentu tidak semua masukan harus diterima begitu saja. Pemimpin tetap perlu menggunakan pertimbangan, data, nilai, dan kebijakan dalam mengambil keputusan.

Namun, bersedia mendengarkan merupakan langkah awal untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Dari Pemimpin Pembelajar Menjadi Organisasi Pembelajar Ketika kepala madrasah memiliki Growth Mindset, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pola pikir tersebut dapat membentuk budaya organisasi.

·        Guru terdorong untuk belajar.

·        Tim terbiasa melakukan refleksi.

·        Kesalahan dibahas untuk diperbaiki.

·        Ide baru mendapatkan ruang.

·        Praktik baik dibagikan.

·        Keberhasilan tidak membuat organisasi cepat puas.

Inilah yang kemudian melahirkan madrasah pembelajar. Madrasah pembelajar bukan madrasah yang tidak pernah memiliki masalah.

Sebaliknya, madrasah pembelajar adalah madrasah yang mampu belajar dari masalah yang dihadapinya.

 

Growth Mindset dan Kepemimpinan Berbasis Cinta

Gagasan Growth Mindset juga memiliki keterkaitan dengan tema Kurikulum Berbasis Cinta yang turut menjadi bagian dari pembinaan. Materi tersebut menekankan pentingnya memulai perubahan dari orang dewasa. Artinya, sebelum menuntut murid untuk menjadi pembelajar, guru dan pemimpin perlu menunjukkan terlebih dahulu bagaimana menjadi pembelajar. Sebelum meminta murid berani mencoba, orang dewasa perlu memberi contoh keberanian untuk mencoba. Sebelum mengajarkan murid menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, guru dan pemimpin juga perlu menunjukkan sikap yang sama. Perubahan pendidikan akhirnya kembali kepada keteladanan.

 

Sebuah Refleksi

Ada beberapa pertanyaan yang dapat menjadi cermin bagi seorang pemimpin:

1.   Kapan terakhir kali saya benar-benar belajar sesuatu yang baru?

2.   Apakah saya terbuka menerima kritik dan masukan?

3.   Bagaimana saya merespons ketika sebuah program tidak berhasil?

4.   Apakah saya memberi ruang kepada guru untuk mencoba dan berinovasi?

5.   Apakah saya lebih sering mencari kesalahan guru atau mencari pembelajaran dari sebuah kesalahan?

6.   Apakah saya menjadi contoh sebagai pembelajar bagi warga madrasah?

Tidak ada pemimpin yang sempurna. Namun, selalu ada pemimpin yang bersedia menjadi lebih baik. Dan mungkin, di situlah inti dari Growth Mindset.

 

Pemimpin yang Terus Bertumbuh

Kepemimpinan bukanlah titik akhir. Ia adalah perjalanan belajar yang tidak pernah selesai. Grand Why memberikan alasan besar untuk memimpin. Gift mengajarkan pentingnya memberikan manfaat kepada orang lain. Grind mengajarkan ketekunan untuk terus berjuang. Dan Growth Mindset mengingatkan bahwa sepanjang perjalanan tersebut, seorang pemimpin harus terus belajar dan bertumbuh. Sebab madrasah tidak akan berkembang jika pemimpinnya berhenti berkembang. Guru akan sulit membangun budaya belajar jika pemimpinnya sendiri tidak mau belajar. Dan perubahan akan sulit terjadi jika orang dewasa di dalamnya takut terhadap perubahan.

Maka, menjadi pemimpin bukan berarti harus selalu tahu semua jawaban. Menjadi pemimpin berarti bersedia terus mencari jawaban, belajar dari pengalaman, mendengarkan orang lain, dan memperbaiki diri. Karena pemimpin yang terus bertumbuh akan melahirkan tim yang terus belajar. Dan tim yang terus belajar akan membawa madrasah menuju masa depan yang lebih baik.

Itulah Growth Mindset: bukan merasa sudah menjadi yang terbaik, tetapi memiliki keberanian untuk terus menjadi lebih baik.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 

Artikel ini dikembangkan berdasarkan materi "5G Leadership: Memimpin dengan Hati, Bertumbuh untuk Peradaban" yang dipaparkan dalam pembinaan Kepala MI oleh Pengawas Madrasah H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengembangan narasi bertujuan memperluas pemahaman pembaca dengan tetap mempertahankan substansi utama materi yang ditampilkan pada bahan presentasi.

 

Baca selengkapnya ...

26 August 2026

Grind: Ketekunan yang Mengubah Gagasan Menjadi Kenyataan

 Kabarmadrasah.com- Leadership#4

Memiliki tujuan besar adalah awal dari sebuah kepemimpinan. Memberikan manfaat kepada orang lain adalah bagian penting dari perjalanan seorang pemimpin. Namun, keduanya belum cukup.


Sebuah gagasan tidak akan menjadi kenyataan tanpa tindakan. Sebuah program tidak akan menghasilkan perubahan tanpa konsistensi. Dan sebuah cita-cita tidak akan terwujud hanya dengan semangat yang muncul sesekali.

Di sinilah unsur ketiga dalam konsep 5G Leadership menjadi penting: Grind.

Dalam materi 5G Leadership: Memimpin dengan Hati, Bertumbuh untuk Peradaban yang disampaikan Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Kudus, H. Noor Yadi, S.Pd.I., M.Pd.I., Grind menjadi salah satu karakter yang perlu dimiliki seorang pemimpin.

 

Apa Itu Grind?

Dalam konteks kepemimpinan, Grind dapat dipahami sebagai ketekunan untuk terus bekerja, berproses, dan berjuang secara konsisten demi mencapai tujuan. Grind bukan sekadar bekerja keras. Lebih dari itu, Grind berbicara tentang kemampuan untuk tetap bergerak ketika hasil belum terlihat, tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan, dan tetap konsisten ketika semangat mulai menurun.

 

Sebab dalam dunia pendidikan, perubahan hampir tidak pernah terjadi secara instan. Membangun budaya disiplin membutuhkan waktu. Meningkatkan kualitas pembelajaran membutuhkan proses. Mengembangkan kompetensi guru membutuhkan pendampingan. Membangun kepercayaan masyarakat membutuhkan konsistensi.

Karena itu, seorang pemimpin membutuhkan ketangguhan untuk menjalani proses tersebut.

 

Tidak Semua Perjuangan Langsung Menghasilkan

Salah satu jebakan dalam kepemimpinan adalah mengharapkan hasil yang terlalu cepat. Ketika sebuah program belum menunjukkan hasil, pemimpin mungkin tergoda untuk menghentikannya. Ketika sebuah inovasi belum mendapatkan respons yang baik, muncul keinginan untuk kembali pada cara lama. Ketika perubahan budaya kerja berjalan lambat, semangat untuk melanjutkan perjuangan bisa menurun.

Padahal, tidak semua proses perubahan dapat diukur dalam waktu singkat. Seperti seorang guru yang mendampingi murid,  eorang kepala madrasah juga harus memahami bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu.

Hari ini mungkin belum terlihat hasilnya. Namun, proses yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan besar di kemudian hari.

 

Grind Bukan Berarti Bekerja Tanpa Arah

Ketekunan tidak sama dengan bekerja tanpa strategi. Seorang pemimpin yang terus bekerja tetapi tidak melakukan evaluasi dapat saja hanya mengulang kesalahan yang sama. Karena itu, Grind harus berjalan bersama dengan refleksi.

 

Bekerja keras, tetapi tetap berpikir.

Konsisten, tetapi tetap mengevaluasi.

Pantang menyerah, tetapi bersedia mengubah strategi ketika diperlukan.

Dengan demikian, Grind bukan sekadar kesibukan. Ia adalah ketekunan yang diarahkan oleh tujuan dan diperbaiki melalui evaluasi.

 

Kepala Madrasah dan Seni Menjaga Konsistensi

Dalam kehidupan madrasah, banyak program bagus yang gagal bukan karena idenya buruk, tetapi karena tidak konsisten dalam pelaksanaannya.

  • ·        Program literasi dimulai dengan semangat, kemudian perlahan kehilangan perhatian.
  • ·        Kegiatan pembiasaan berjalan beberapa minggu, lalu berhenti.
  • ·        Rencana peningkatan kompetensi guru disusun, tetapi tidak ditindaklanjuti.
  • ·        Inovasi pembelajaran diperkenalkan, tetapi tidak mendapatkan pendampingan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa memulai sesuatu sering kali lebih mudah daripada mempertahankannya. Pemimpin dengan karakter Grind memahami bahwa konsistensi adalah bagian dari kepemimpinan. Ia tidak hanya pandai meluncurkan program, tetapi juga memastikan program tersebut terus dievaluasi dan dikembangkan.

 

Pemimpin Harus Hadir dalam Proses

Ketekunan seorang pemimpin juga terlihat dari kehadirannya. Bukan berarti kepala madrasah harus mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Justru pemimpin yang baik mampu membangun tim dan mendelegasikan tanggung jawab. Namun, delegasi bukan berarti melepaskan diri. Pemimpin tetap perlu mengetahui perkembangan, mendengarkan kendala, memberikan dukungan, dan membantu mencari solusi. Kehadiran tersebut memberikan pesan penting kepada tim: "Kita sedang berjuang bersama."

Ketika guru melihat pemimpinnya tidak mudah menyerah, mereka pun memperoleh energi untuk terus berusaha.

 

Grind dan Keteladanan

Kepemimpinan memiliki kekuatan yang besar melalui keteladanan. Seorang kepala madrasah yang menuntut kedisiplinan tetapi dirinya sendiri tidak disiplin akan sulit membangun budaya kerja yang kuat.

Sebaliknya, ketika pemimpin menunjukkan komitmen terhadap pekerjaan, menghargai waktu, menyelesaikan tanggung jawab, mau belajar, dan tetap berusaha menghadapi kesulitan, ia sedang memberikan contoh nyata kepada timnya.

Karena itu, Grind bukan hanya tentang apa yang dikatakan pemimpin kepada bawahannya. Grind terlihat dari apa yang dilakukan pemimpin ketika tidak ada yang mengawasinya.

 

Ketika Semangat Mulai Menurun

Tidak ada pemimpin yang selalu berada dalam kondisi penuh energi.

  • ·        Ada masa ketika seseorang merasa lelah.
  • ·        Ada masa ketika program tidak berjalan sesuai harapan.
  • ·        Ada masa ketika kritik datang dari berbagai arah.
  • ·        Ada masa ketika hasil kerja belum mendapatkan apresiasi.

Dalam situasi seperti itu, Grind bukan berarti menolak rasa lelah.

Seorang pemimpin tetap manusia yang memiliki keterbatasan.

Yang penting adalah kemampuan untuk berhenti sejenak untuk memulihkan diri, melakukan refleksi, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Ketekunan bukan berarti tidak pernah jatuh. Ketekunan berarti bersedia bangkit dan melanjutkan langkah.

 

Grind dalam Perspektif Tim

Ketekunan seorang pemimpin juga harus mampu menular menjadi budaya tim. Sebab madrasah tidak dibangun oleh kepala madrasah seorang diri. Ada guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, komite, dan berbagai pihak yang memiliki peran masing-masing.

Karena itu, pemimpin perlu membangun budaya:

"Kita menyelesaikan masalah bersama." Bukan: "Ini tugas saya dan itu tugas kamu."

Ketika setiap anggota tim memahami tujuan bersama dan bersedia memberikan kontribusi terbaiknya, ketekunan individu berubah menjadi kekuatan kolektif.

 

Grind Tidak Berarti Harus Sempurna

Ada satu hal penting yang perlu dipahami. Konsistensi bukan berarti setiap hari harus menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kadang-kadang kemajuan hanya berupa satu langkah kecil. Hari ini guru mencoba metode baru. Besok dilakukan evaluasi. Minggu berikutnya diperbaiki. Bulan berikutnya hasilnya mulai terlihat.

Perubahan besar sering kali merupakan kumpulan dari perbaikan-perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus. Karena itu, pemimpin tidak perlu menunggu kondisi sempurna untuk bergerak.

  • ·        Mulailah.
  • ·        Evaluasi.
  • ·        Perbaiki.
  • ·        Lanjutkan.
  • ·        Dan ulangi.

Dari Grind Menuju Hasil

Jika Grand Why memberikan alasan, dan Gift mengajarkan pemimpin untuk memberi manfaat, maka Grind memastikan bahwa alasan dan manfaat tersebut diwujudkan melalui tindakan nyata.

Tanpa Grind, Grand Why hanya menjadi cita-cita.

Tanpa Grind, Gift hanya menjadi niat baik.

Grind mengubah keduanya menjadi gerakan nyata.

Inilah mengapa ketekunan menjadi salah satu fondasi penting dalam kepemimpinan.

 

Refleksi Leadership

Setiap kepala madrasah dan pemimpin pendidikan dapat bertanya kepada dirinya sendiri:

1.   Apakah saya konsisten dengan tujuan yang telah saya tetapkan?

2.   Apakah saya mudah menyerah ketika program belum menunjukkan hasil?

3.   Apakah saya mampu mempertahankan program baik secara berkelanjutan?

4.   Apakah saya hadir dan mendampingi tim ketika menghadapi kesulitan?

5.   Apakah saya sudah memberikan teladan dalam hal disiplin dan ketekunan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sederhana, tetapi jawabannya dapat menjadi cermin kualitas kepemimpinan.

 

Jangan Hanya Pandai Memulai

Banyak orang dapat memulai. Tidak semua orang mampu bertahan. Dalam kepemimpinan madrasah, kemampuan bertahan dalam proses menjadi sangat penting karena perubahan pendidikan bukanlah perlombaan jarak pendek.

  • ·        Ia adalah perjalanan panjang.
  • ·        Ada hari ketika hasil terlihat.
  • ·        Ada hari ketika semuanya terasa sulit.
  • ·        Ada masa ketika apresiasi datang.
  • ·        Ada pula masa ketika perjuangan terasa sepi.

Namun pemimpin dengan Grind memahami bahwa tidak semua kebaikan harus langsung terlihat hasilnya.

Tugas seorang pemimpin adalah terus menjaga arah, menguatkan tim, mengevaluasi langkah, dan memastikan bahwa perjalanan menuju tujuan tidak berhenti hanya karena menghadapi satu atau dua hambatan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya milik mereka yang memiliki gagasan besar, tetapi juga mereka yang memiliki ketekunan untuk mewujudkannya.

Grand Why memberi kita alasan untuk bergerak. Gift mengajarkan kita untuk memberi manfaat. Dan Grind mengajarkan kita untuk tetap bergerak sampai tujuan itu perlahan menjadi kenyataan.

Leadership : Rubrik inspirasi kepemimpinan yang mengulas gagasan, pengalaman, dan praktik  untuk membangun madrasah yang unggul, humanis, dan berdampak.
 
Baca selengkapnya ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com