Kudus, Ahad 22 Pebruari 2026, bertempat di Masjid Baitul Muttaqin Sambung Undaan Kudus dilaksanakan kegiatan syiar Ramadhan 1447 H.
Ngaji Ahad sore kembali menjadi ruang pertemuan ruhani yang sarat makna. Dalam suasana yang khidmat, para jamaah yang hadir tampak dari pengurus masjid, pengurus NU sebanom, dan jamaah muslimin muslimat mulai dari usia anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua, semuanya mengikuti dengan seksama.
Dalam sambutannya, K. Kusnudiin,M.Pd. selaku Pengurus Ta'mir Masjid Baitul Muttaqin Sambung Undaan Kudus mengajak seluruh jamaah untuk menata niat dalam mengaji dan tholabul ilmi. Ilmu bukan sekadar tambahan wawasan, melainkan ibadah. Jika niatnya lurus, maka setiap langkah menuju majelis ilmu bernilai pahala. Dan Insyaallah di akhir kegiatan nanti akan dibagikan menu berbuka bersama yang telah disediakan oleh Panitia
Beliau juga menghimbau agar jamaah tidak datang sendiri pada kesempatan berikutnya. Dihimbau untuk mengajak teman untuk ikut mengaji, bukan hanya memperluas lingkaran kebaikan, tetapi juga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir
K. Mukhit sebagai narasumber di Ahad pertama ini kemudian memperdalam pembahasan tentang niat. Setidaknya ada beberapa niat yang harus ditanamkan ketika hadir di majelis ilmu:
1. Niat ibadah, karena mengaji adalah bentuk penghambaan kepada Allah.
2. Niat silaturahim, menyambung hubungan dengan sesama.
3. Niat mencari ilmu, agar hidup terarah dengan bimbingan syariat.
3. Niat memperbaiki hati
Dalil tentang silaturahim dijelaskan dengan makna yang dalam. Panjang umur tidak selalu dimaknai secara matematis, tetapi secara keberkahan. Umur lima tahun bisa bernilai seperti lima puluh tahun karena keberkahan silaturahim.
Keutamaan Majelis Ilmu
Disampaikan pula sabda Nabi bahwa siapa yang berniat menghadiri majelis ilmu, bahkan sebelum melangkah pun dosanya sudah diampuni Allah.
Ada empat anugerah besar yang Allah berikan kepada orang-orang yang menghadiri majelis ilmu:
1. Nazalat ‘alaihimussakinah – Turunnya ketenangan hati. Jiwa menjadi ayem tentrem, tidak mudah benci dan tidak menyimpan dendam kepada siapa pun.
2. Waghasyat-humur rahmah – Dilingkupi kasih sayang dari Allah. Rumah tangga harmonis,sajinah mawaddah warohmah, keluarga rukun, dan hubungan dengan tetangga penuh kebaikan.
3. Wakhuffat-humul malaikat – Dikelilingi malaikat. Malaikat mencintai majelis dzikir dan pengajian (majlis ilmu)
4. Wadzakarollahu fima indahum– Allah akan ingat dengan kita disaat kita berdzikir kepada Allah, mengingat Allah
Puasa dan Pembentukan Taqwa
Pembahasan kemudian bergeser pada hakikat puasa. Tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menyempurnakan taqwa. Puasa adalah tirakat—latihan mengendalikan nafsu.
Dengan puasa, rasa takut kepada Allah (khauf) bertambah. Nafsu dilatih untuk tunduk, bukan menjadi pengendali.
Makhluk Allah dan Potensi Derajat Muttaqin
Disampaikan pula klasifikasi makhluk Allah:
1. Malaikat – dianugerahi akal tanpa nafsu.
2. Syetan – memiliki nafsu tanpa akal.
3. Manusia – memiliki akal dan nafsu sekaligus.
Justru karena manusia memiliki dua unsur itu, manusia berpeluang mencapai derajat muttaqin. Malaikat taat karena tidak punya nafsu. Syetan sesat karena tidak memiliki kendali akal yang menuntun pada ketaatan. Manusia berada di tengah: ketika akal mampu mengendalikan nafsu, ia bisa lebih mulia dari malaikat. Namun jika nafsu menguasai akal, ia bisa lebih rendah dari makhluk lainnya.
Ngaji Ahad sore ini menegaskan bahwa kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi oleh keberkahan. Keberkahan lahir dari niat yang benar, silaturahim yang terjaga, ilmu yang dicari dengan sungguh-sungguh, serta latihan spiritual seperti puasa yang menguatkan taqwa.
Majelis ilmu bukan sekadar rutinitas, melainkan proses pembentukan karakter: menenangkan hati, melembutkan hubungan sosial, dan meninggikan derajat di sisi Allah.
Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu menjadi saksi di hadapan-Nya, dan setiap niat yang ditata menjadi sebab turunnya sakinah dalam kehidupan kita.











