Madrasah hebat bermartabat- Lebih baik madrasah - Madrasah lebih baik

Breaking News
Showing posts with label Bronte. Show all posts
Showing posts with label Bronte. Show all posts

01 April 2025

Perubahan dan Perbedaan cara berlebaran dulu dan sekarang

  

Lebaran tahun 2025 telah tiba, semua umat muslim merayakannya dengan suka cita. Berbagai kebutuhan dan kegiatan untuk merayakan lebaran telah diagendakan, tak peduli golongan social ekonomi kelas bawah sampai kelas atas semua merayakan dengan porsi kemampuan masing-masing.

Dalam tulisan ini, saya mencoba mengutarakan berdasarkan perjalanan waktu, mulai usia ndolornya  (mumayyiz) kami dalam merayakan lebaran bersama orag tua sampai kini sudah menjadi tua begitu banyak perubahan budaya dalam perayaan Lebaran dari era 1980-an hingga zaman sekarang , yang tentu mencerminkan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang signifikan.


Apa saja perubahan yang ada ? menurut pengamatan kami, ( tentu beda orang beda hasil pengamatan he he )  ada beberapa aspek perbedaannya:

1. Persiapan Menjelang Lebaran

  • Era 80-an: Persiapan Lebaran lebih mengandalkan tradisi turun-temurun, seperti membuat kue sendiri (nastar, kastengel, rengginang, keciput, tumpi / kembang goyang, jumputan, krupuk puli), menjahit baju baru di tukang jahit, peci hitam yang sudah merah disemirkan, ada uga yang tidak mampu beli baju baru bisa beli baju bagoran ( baju bekas layak pakai) serta membersihkan rumah secara gotong royong, mengecat dinding rumah dengan kapur( enjet), mencuci semua perkakas meja kursi, dan jendela
  • Zaman Sekarang: Kue dan makanan Lebaran lebih sering dibeli dari toko offline atau online dengan aneka macam variasi dan jenis makanan yang modern dan kekinian.  Baju Lebaran cenderung dibeli dari merek terkenal atau marketplace, dan mungkin mayoritas anak-anak muda sekarang beli kebutuhanya lewat toko online.  Kebersihan rumah lebih sering mengandalkan jasa kebersihan. Juga perbaikan rumah dan pengecatan  tentu mengikuti trend kekinian

2. Mudik Lebaran

  • Era 80-an: Mudik dilakukan dengan kendaraan umum seperti bus dan kereta api dengan kondisi seadanya. Tidak ada sistem tiket online, sehingga calon pemudik harus antre berjam-jam untuk membeli tiket. Dan bisa jadi ada yang sampai ke kampung halaman itu sudah lebaran hari pertma atau kedua ( telat dech…)
  • Zaman Sekarang: Tiket bisa dibeli secara online jauh-jauh hari, transportasi lebih nyaman dengan adanya pesawat, kereta cepat, dan jalan tol yang lebih baik. Mobil pribadi juga semakin banyak digunakan untuk mudik. Dan bahkan sekarang ada yang difasilitasi dengan adanya mudik gratis oleh perusahaan atau pemerintah setempat.

3Budaya takbir keliling

a. Era 1980-an: Kesederhanaan dan Kebersamaan Tradisional

  • Takbir keliling dilakukan secara sederhana dengan berjalan kaki beramai-ramai, biasanya oleh anak-anak, remaja, hingga orang tua.
  • Menggunakan obor dari bambu dan kaleng sebagai penerangan, serta kentongan kayu untuk menambah semarak suasana.
  • Alat musik pengiring terbatas, biasanya hanya bedug masjid atau rebana.
  • Tidak ada sistem pengamanan khusus, hanya dikawal oleh tokoh masyarakat atau pemuda setempat.
  • Semua peserta dengan khidmat melantunkan takbir dengan dikomando oleh seseorang

   b. Era 1990-an: Kreativitas Mulai Muncul

  • Selain berjalan kaki, mulai ada peserta yang menggunakan sepeda dan gerobak untuk membawa bedug.
  • Takbir keliling semakin meriah dengan berbagai bentuk lampion atau replika masjid, ka’bah, dan simbol-simbol Islam yang dibuat dari bambu dan kertas warna-warni.
  • Penggunaan sound system sederhana mulai muncul, biasanya dengan pengeras suara dari masjid atau mobil bak terbuka.
  • Masih kental dengan suasana kebersamaan tanpa kompetisi antar kelompok atau wilayah.

c. Era 2000-an: Modernisasi dan Tantangan Regulasi

  • Takbir keliling semakin meriah dengan penggunaan kendaraan bermotor, seperti truk, pick-up, dan motor yang dihias dengan lampu dan dekorasi unik.
  • Sound system lebih canggih, bahkan ada yang membawa generator listrik untuk mendukung alat musik modern seperti keyboard dan drum elektrik., Juga ada kecenderungan menyewa sound horeg dari daerah lain
  • Muncul kompetisi takbir keliling yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah atau organisasi masyarakat, menambah daya tarik perayaan.
  • Di beberapa daerah, takbir keliling mulai dikurangi atau dibatasi karena alasan keamanan, seperti kemacetan, tawuran antar kelompok, atau penggunaan petasan yang berlebihan.

 

4. Silaturahmi dan Bermaaf-maafan

  • Era 80-an: Silaturahmi dilakukan secara langsung dengan mengunjungi sanak saudara, tetangga, dan kerabat jauh. Anak-anak berkeliling  jalan kaki atau bersepeda onthel dari rumah ke rumah untuk bersalaman dan mendapatkan angpau. Tak peduli jarak rumah, bahkan satu kampung dua kampung full mereka kunjungi satu persatu tanpa peduli rasa lelah dan malu demi memburu kata maaf. Kekerabatan dan keakraban keluarga sangat erat karena dalam silaturrahim tersebut oleh yang lebih tua memperkenalkan ( nggenahke, ndunungke) anggota keluarga masing-masing

  • Zaman Sekarang: Silaturahmi masih dilakukan secara langsung, tetapi teknologi memungkinkan komunikasi melalui video call dan pesan digital, terutama bagi yang tidak bisa mudik. Ucapan Lebaran juga lebih banyak dikirim melalui media social dengan kecanggihan berbagai fitur aplikasi yang ada di HP Android.

5. Pemberian Angpau atau THR

  • Era 80-an: Anak-anak mendapatkan uang Lebaran dari orang tua dan kerabat dalam bentuk uang kertas baru dalam nominal kecil.
  • Zaman Sekarang: Uang Lebaran bisa diberikan dalam nominal lebih besar (dikemas dalam amplop lebaran khusus ) bahkan ada yang menggunakan dompet digital atau transfer bank.

6. Menu Lebaran

  • Era 80-an: Hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan sambal goreng kentang dibuat dengan bahan tradisional dan dimasak bersama-sama dalam keluarga , di dapur dengan bahan bakar kayu
  • Zaman Sekarang: Masih ada yang memasak sendiri, tetapi banyak juga yang memilih membeli makanan siap saji atau pesan catering.

7. Hiburan dan Aktivitas Lebaran

  • Era 80-an: Hiburan setelah Lebaran lebih banyak diisi dengan permainan tradisional, nonton film di televisi bersama keluarga, atau menghadiri acara hiburan lokal.
  • Zaman Sekarang: Media sosial, YouTube, dan platform streaming menjadi hiburan utama. Banyak orang juga memanfaatkan momen Lebaran untuk jalan-jalan ke tempat wisata atau berfoto untuk diunggah ke media sosial.

Meskipun esensi Lebaran sebagai momen kebersamaan dan silaturahmi tetap ada, cara masyarakat merayakannya telah berubah seiring perkembangan zaman. Teknologi, ekonomi, dan gaya hidup modern telah mengubah tradisi menjadi lebih praktis dan efisien, tetapi semangat kebersamaan tetap menjadi inti perayaan.

www.kabarmadrasah.com

Terima kasih telah membaca artikel ini, Semoga bermanfaat.
jangan lupa baca artikel :Download RPP Kelas 1 Kurikulum 2013 Revisi 2017
Baca selengkapnya ...

31 March 2025

Masjid Baitul Muttaqin Sambung Undaan adakan sholat Idul Fitri dengan tertib dan khusuk

 



Pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Desa Sambung, Undaan, Kudus, tahun 1446 H dipusatkan di Masjid Baitul Muttaqin, Senin 31 Maret 2025. Sholat dimulai pada pukul 06.20 WIB dengan suasana khusyuk dan tertib. Bertindak sebagai imam dalam sholat Idul Fitri adalah K. Ahmad Jazuli, sedangkan khutbah disampaikan oleh K. Sulhadi, S.Pd.I.


Dalam khutbahnya, K. Sulhadi, S.Pd.I. menekankan bahwa hari ini merupakan hari kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan penuh berjuang menahan diri dalam berpuasa. Selain itu, malam hari selama bulan Ramadhan juga diisi dengan ibadah qiyamullail untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.



Setelah rangkaian sholat Idul Fitri selesai, pihak takmir masjid membacakan pengumuman mengenai jariyah yang masuk pada malam takbiran hingga pagi hari Idul Fitri, dengan akumulasi sebagai berikut:

1. Jariyah: Rp.42.618.000,-

2. Infak kotak amal: Rp22.806.000,- 

Total: Rp.65.424.000,

Kegiatan selanjutnya adalah mushafahah (saling bersalaman) yang dilakukan secara bergantian dan berurutan. Jamaah laki-laki melaksanakan mushafahah di dalam masjid, sementara jamaah perempuan melakukannya di tempat yang telah disediakan dengan iringan kalimat istighfar 

Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh KH. Ali Muntaha (Ketua Ta'mir Masjid) dil


Demikianlah rangkaian kegiatan Sholat Idul Fitri di Desa Sambung tahun 1446 H, yang berjalan dengan lancar dan penuh kebersamaan.


Baca selengkapnya ...

25 June 2020

KKMI Undaan Sosialisasikan Kurikulum Darurat Covid-19

Kabarmadrasah.com – Memasuki era new normal , madrasah sangat perlu untuk mengikuti kebijakan yang ada. Pada tahun pelajaran baru 2020/2021, madrasah akan kembali membuka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka.

Untuk mendukung keberlangsungan kenormalan baru (new normal) dalam KBM, Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyyah (KKMI) Kecamatan Undaan Kudus menyelenggarakan Sosialisasi Kurikulum Darurat Covid-19 di MI NU Miftahul Falah Undaan Tengah Kudus (25/06/2020)

Dalam sambutannya, KH. Ali Murtafiin, S.Pd.I selaku Ketua KKMI Undaan menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan berdasarkan beberapa hal :

1.   KMA No 184 tentang Pedoman Implentasi Kurikulum pada Madrasah

2. Surat Edaran Mendiknas  No 15 tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan  belajar di rumah dalam masa darurat penyebaran covid-19 .

3.   SK Dirjen Pendis No 2491/ 2020 tentang panduan kurikulum darurat covid 19

4.   Kakdik Tahun Pelajaran 2020/ 2021 sesuai SK Pendis no 2491 tahun 2020 .

5. SKB 4 menteri ( Kemendikbud , Kemenag , Kemendagri dan Kemenkes ) tentang panduan pembelajaran tahun ajaran baru di masa pandemi Covid-19 

6.   Rapat dinas Kasi Penmad dengan Pokjawas Kankemenag Kudus

7.    Rapat pengurus harian Pokjawas dengan KKMI se-kab Kudus .

8.   Rapat pengurus harian KKMI Undaan .

Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 13 Kepala  Madrasah Ibtidaiyyah dan  13 Koordinator kurikulum MI sekecamatan Undaan, termasuk MI Raudlatut Tholibin Sambung Undaan Kudus yang baru saja mendapatkan Ijin Operasional (Ijop) dari Kementrian Agama

Beliau, KH. Ali Murtafiin menargetkan  bahwa awal tahun pelajaran 2020 / 2021, dokumen KTSP harus sudah bisa diimplentasikan oleh satuan pendidikan masing-masing MI sekecamatan Undaan

Bertindak sebagai narasumber dalam sosialisasi ini adalah H Masruchin , S.Ag, M.Pd selaku Pengawas Pemdidikan Madrasah Kecamatan Undaan Kudus dengan dibantu moderator dan operator oleh Supono, S.Pd.I, M.Pd.I.

Dengan jelas dan gamblang materi sosialisasi dipaparkan oleh beliau melaui slide proyektor dan dengan gaya dan bahasa yang khas,

Selanjutnya, sebagai tindak lanjut sosialisasi  disepakati bahwa koordinator  kurikulum besok Selasa 30 Juni 2020 akan melanjutkan penyusunan dokumen KTSP Darurat covid-19  yang akan bertempat MI NU Mawaqiul Ulum Medini untuk kemudian pada hari Kamis, 1 Juli 2020 akan diedit kevalidan dokumen KTSP dan dimintakan pengesahan Kakankemenag Kabupaten Kudus .

Dengan tetap  menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan upaya pencegahan penularan covid-19 diantaranya memakai masker, jaga jarak, cuci tangan dll kegiatan berlangsung dengan lancar dan selesai tepat sebelum tiba saatnya sholat dhuhur

Demikian artikel ini, semoga menambah maksimal pelayanan madrasah terhadap pendidikan, sesuai dengan motto "madrasah hebat bermartabat" 

www.kabarmadrasah.com

Terima kasih telah membaca artikel ini, Semoga bermanfaat.
jangan lupa baca artikel :Download RPP Kelas 1 Kurikulum 2013 Revisi 2017
Baca selengkapnya ...

02 April 2020

Sekolah libur, mengapa banyak orang tua yang bingung?

Sebagai upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran COVID-19 di Indonesia, maka ada kebijakan untuk belajar di rumah bagi anak-anak sekolah . Libur sekolah yang lebih tepatnya adalah belajar di rumah tampaknya membuat pusing sebagian besar orang tua. Mereka kewalahan dan pontang-panting dengan mengganda profesi ibu rumah tangga plus jadi guru sementara. Barulah kita sadar bahwa selama ini banyak tertolong dengan adanya guru.

Pahlawan tanpa tanda jasa ia disebut. Ibarat pelita yang menjadi penerang dalam gulita. Tugasnya banyak, dari mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan yang utama ialah mendidik.

Islam pun memuliakan mereka dengan menggolongkannya sebagai orang-orang yang beruntung dan mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Allah SWT berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah:11)

Sebenarnya sekolah utama dan pertama si anak adalah ibu dan lingkungan keluarganya. Para orang tua harus bisa menjadikan momen lockdown ini sebagai moment spesial bersama anak dan keluarga.

Jika kurang mampu mengelola dan menciptakan suasana belajar efektif di rumah, maka orang tua bisa stres. Hingga akhirnya banyak putra-putri yang dibiarkan tanpa pengawasan, nonton televisi hiburan, bermain gadget , sehingga akan mengakibatkan gairah belajar turun saat masuk kembali ke sekolah. Pelajaran dan materi yang telah diajarkan oleh bapak/ibu guru pun semua seolah hilang entah kemana

Ciptakan suasana menarik dan asyik. Jalin komunikasi dan kedekatan lebih kepada anak. Dan islam dibangun atas pondasi ilmu dan pengetahuan. Nabi Muhammad SAW juga selalu mengutamakan ilmu dan menganjurkan ummatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًاً 

Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mengutusku untuk memaksa orang atau menjerumuskannya, akan tetapi Dia mengutusku sebagai seorang pengajar dan  memudahkan urusan" 

Mu'awiyah bin Hakam berkata,

مَا رَأَيْتُ مُعَلِّماً قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيْماً مِنْهُ

“Belum pernah aku melihat orang yang lebih baik pengajarannya selain beliau (Nabi Muhammad SAW).”

Dalam riwayat dari Abu Dawud disebutkan,

فَمَا رَأَيْتُ مُعًلِّماً قَطٌّ أَرْفَقُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

“Aku belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih santun dari Rasulullah SAW.”

Tirulah Nabi yang mulia ketika menjadi pendidik, Wahai Ibu...

Jadikan saat ini , dimana liburan sekolah yang begitu panjang akibat kondisi wabah COVID-19 ini,  sebagai ladang pahala yang semakin luas untukmu. Bayangkan, 1 ayat, atau 1 huruf yang kau ajarkan untuk anakmu, akan bernilai pahala jariyah untukmu meski ragamu telah tiada.

Karena Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

"Jika seorang manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya."



www.kabarmadrasah.com

Terima kasih telah membaca artikel ini, Semoga bermanfaat.
jangan lupa baca artikel :Download RPP Kelas 1 Kurikulum 2013 Revisi 2017
Baca selengkapnya ...

21 October 2019

KEUTAMAAN SHALAT MALAM


           Kabarmadrasah.com- Senang sekali saya bisa berjumpa kembali dengan sahabat semua dalam coretan yang sederhana ini, semoga silaturrahim kita meski lewat tulisan ini ada berkah dan manfaatnya, Aamiin
           Sahabatku, perkenankan pada coretan ini saya akan menyampaikan cerita tentang keutamaan sholat malam, dimana cerita ini saya ambil dari kitab An-Nawadir karya syekh Syihabuddin Al-Qalyubi.Untuk lebih jelasnya, yuk segera kita simak ceritanya :
Alkisah, ada seorang laki-laki yang membeli budak,  setelah transaksi pembelian selesai, si budak berkata dan mengajukan permohonan kepada tuan yang baru saja membelinya:
“ Wahai  tuanku, aku meminta darimu tiga syarat, Pertama : engkau tidak melarangku shalat ketika waktunya telah tiba.  Kedua, engkau mempekerjakan aku pada siang hari, dan jangan menyibukkanku pada malam hari. Ketiga, engkau memberikan aku sebuah rumah yang tidak dimasuki oleh siapapun, kecuali aku.”
  Tuanya berkata,” engkau memperoleh hak itu. Lihatlah rumah-rumah ini.”

Baca Juga

  Si budak berkeliling memilih rumah untuk tempat tinggalnya. Ia memilih rumah yang rusak dan hampir roboh
“ Mengapa engkau memilih rumah yang hampir roboh ini?’ tanya tuannya
“ Wahai Tuanku, ketahuilah bahwa rumah hampir roboh yang bersama Allah, maka sejatinya berdiri tegak dengan kebun indah.”
Tuanya diam mendengar jawaban itu
         Pada malam harinya,  si budak tinggal di tempat itu.  Suatu malam, tuannya mengundang teman-temannya untuk minum dan bersenang-senang bersama. Ketika tengah malam, dan teman-temannya telah pulang, ia berkeliling diantara rumah rumahnya.  pandangannya jatuh pada ruang si   budak.  Tiba-tiba, di sana terdapat pelita dari cahaya  yang bergantungan di langit.
Sementara itu, si budak sedang sujud bermunajat kepada Tuhannya, dan berkata,” Tuhanku, aku harus melayani tuanku pada siang hari.  Seandainya tidak ada ia, maka akan aku gunakan waktuku bagi-Mu,  baik siang maupun malam,   maka ampunilah aku !”
Tanpa beranjak dari tempatnya, majikan itu terus memandang budaknya dengan rasa takjub sampai terbit fajar.  Kemudian, pelita itu hilang dan yang tampak adalah atap rumah.  Setelah itu, ia datang kepada istrinya memberi tahu peristiwa yang baru saja dilihatnya

Baca Juga

            Pada malam berikutnya, ia dan istrinya sengaja melihat ruangan si budak dari luar.  Mereka melihat pelita yang bergantungan di langit itu menyinari si  budak.  Sementara ,  si budak bersujud dan bermunajat hingga terbit fajar 
Keesokan harinya, mereka memanggil si budak “ Engkau merdeka karena Allah swt  samata.  Sehingga  engkau boleh menggunakan waktumu untuk mengabdi kepada orang yang mengizinkan beberapa waktu untukmu, “ ucap mereka
        Setelah itu,  mereka memberitahu peristiwa yang mereka lihat tentang karomah Allah Subhanahu Wa Ta'ala.. Mendengar ucapan itu,  ia langsung mengangkat tangannya ke langit :
“  Tuhanku,  aku meminta-Mu  agar tidak membuka tutupku  dan tidak menampakan keadaanku.  Apabila engkau telah membukanya,  maka ambillah aku kembali kepada-Mu.”
  Tiba-tiba, budak  itu meninggal dunia semoga Allah merahmatinya
         Sahabatku, dari sepenggal cerita tersebut, sahabat semua dapat menarik kesimpulan dan beragam hikmah yang tersurat maupun tersirat. Semoga cerita tersebut dapat memotivasi kita dalam bermunajat malam kepada Allah dengan ikhlas.
          Demikian coretan kisah ini semoga bermanfaat bagi kita semua dalam memposisikan diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa.

www.kabarmadrasah.com

Terima kasih telah membaca artikel ini, Semoga bermanfaat.
jangan lupa baca artikel : Menyemai kader nahdhiyyah dengan Tahlil
Baca selengkapnya ...

09 March 2019

SECANGKIR KOPI DAN SEPASANG AMPLOP PUTIH

Kabarmadrasah.com -


 “Kopinya pahit ndak apa-apa, Mi...” Seru Pak Kamad dari ruang keluarga kepada Bu Imah, sang Istri yang berada di dapur. Pada saat yang sama, sembari menekan-nekan tombol remot  televisi, Pak Kamad masih mencari acara dari stasiun satu ke stasiun tivi lain.

“Acara kok ndak  mutu kabeh! Isine ghibah,  sana ghibah  sini, yang sini tak kalah ghibah sana. Mumet ndas-ku.” Gerutu Pak Kamad. Remot-pun diletakkannya di atas meja tanpa memilih salah satu berita yang ada.
http://www.kabarmadrasah.com/
Source picture : internet

“Baaah... Yakin kopinya pahit? Nanti Abah bilang Umi pelit karena kasih  gula dikit. Bilang saja untuk ngirit  gula, Bah.” Balas Bu Imah dari arah dapur.
“Syukur nikmat, Mi. Biar kesehatan ini dijaga Gusti Pengeran terus. Banyak gula bisa bikin diabetes melitus.” Jawab lelaki berusia tiga puluh delapan tahunan itu pada Istrinya.
“Muter-muter, Bah. Kayak Mak Atun keliling gang menjajakan sayurnya saja,”

Denting suara adukan kopi pada cangkir berbahan aluminium bermotif batik hijau kuno, membuat telinga Pak Kamad semakin terbuai pada aroma racikan Coffee Robusta  dari tangan sang Istri itu.
“Aah... Cepat, Mi.”
Bu Imah pun berjalan ke arah ruang keluarga. Sekumpulan asap halus yang mengepul di atas permukaan kopi memulai pada perbincangan,
“Kopi yang pahit ini lho, Mi. Ada filosofinya.” Senyum Pak Kamad tertuai ke wajah Bu Imah.
Mbuh-lah, Mbok  ya jangan pakai bahasa yang tinggi-tinggi kalau  ngomong  sama Umi. Umi kan ndak  pernah ‘makan’ bangku kuliah.”

“Begini, Mi. Meyeruput pahit kopi ini, Ada makna kejujuran yang semakin langka. Sebagaimana Abah ibaratkan bahwa pahit kopi adalah kejujuran, maka sekarang banyak yang berselera menambahkan gula banyak agar pahit asli kopi tidak kelihatan, rela menggusur sebuah hakikat kejujuran untuk hasil yang manis. Yaaa, walaupun tak sadar yang terlalu manis malah beresiko penyakit.”

Baca Juga Artikel lainnya :



“Ngomong opo to, Bah? Pahit kopi, kejujuran, sing tak ngerteni  jika kopi semakin pahit, maka artinya Umi belum ke warung Mak Atun untuk beli gula. Lha uang belanja ini musti diirit. Ya to, Bah? Umi kan pengertian ndak asal bilang kurang sama jatah yang Abah kasih.”
“Hahahaha.” Tawa khas Pak Kamad tersimpul dari bibir berkumisnya.
“Kok malah tertawa to, Bah?” Heran Bu Imah. Pak Kamad pun merapat,
“Sini, Mi. Merapat ke Abah.”
“Ah, Abah! Ini siang bolong, Bah. Jangan dulu, Ozi juga lagi di halaman depan.” Bu Imah menangkis dengan ucapan.
“Ealaaah... Lha memang Abah arep njaluk ngopo ? Hahahaha.” Tawa yang semakin rekah di wajah Pak Kamad.

“Begini lho, Mi. Abah cuma mau bilang sesuatu ini, Mi.”
“Apa to, Bah?”
“Tadi pagi Abah dikasih dua amplop ini.” Sembari mengeluarkan dua buah amplop putih dengan tutup tanpa lem, bisa diintip berapa nominal di dalam amplop tersebut. Wajah Bu Imah pun tak bisa menyembunyikan binar-nya melihat amplop itu, Agak pura-pura ja’im (gengsi;red) tapi masih penasaran pada apa yang hendak dikatakan sang suami.

“Ini dari Lik Badrun, Mi. Semalam waktu Umi sudah tidur beliau mengetuk pintu rumah kita. Dan beliau memberikan dua amplop ini.” Memelan suara Pak Kamad di dekat telinga sang Istri.
“Berarti Lik Badrun mau kasih uang buat kita, Bah. Mungkin tahu kalau kita membutuhkan. Shodaqoh itu namanya, Bah. Kita terima saja.” Bujuk Bu Imah.

“Eits... Akadnya itu lho yang bikin Abah dilema.”

Baca Juga Artikel lainnya :

“Kayak anak muda saja dilema, galau, mbok ya diterima. Rejeki ditolak itu ndak baik, Bah.” Bu Imah mencoba mengarahkan jemarinya pada amplop di tangan Pak Kamad. Tapi tetap dengan agak elegan sedikit,

“Ngomong-ngomong... Isinya berapa to, Bah?”
“Warna merah pokoknya, Mi.”
“Nah... Dua warna merah berarti? Rejeki itu, Bah.”
“Akadnya itu lho, Mi. Kita diminta nyoblos gambar keponakannya di pileg  (pemilihan legislatif;red) nanti. Masalahnya nurani Abah mengatakan, kalau mencalonkan jadi anggota dewan modalnya dua kepala alias dua pemilih saja sudah segini, berapa akumulasi tarjet keluarga yang dibidiknya? Berapa nominal totalnya? Apa ya nanti ndak mikir balik modal? Apa kita tidak masuk dalam orang yang mendukung hal itu? Kalau balik modalnya pakai uang negara?”

Bu Imah agak memanyunkan bibir cemberutnya. “Ya wis  lah, Umi ndak komentar. Yang penting Abah ingat, ya? Gula di toples tinggal dikit, dua hari lagi bayar listrik, Ozi juga sepatunya sudah gak layak pakai, Bah.”

“Haduh istriku yang cantik ini, kalau itu konteks berbeda, Mi. Ada atau tidak uang panas ini, Insya Allah, Gusti Pengeran bakal nyukupi.” Mencoba Pak Kamad meyakinkan sang Istri.
“Tapi... Biasanya honor Abah tiga bulan sekali lho, Bah? Yakin ndak ngopi sampai tiga bulan mendatang?”

“Hehehehe... Ayu temen istriku kalau cemberut. Ndak usah mikir yang ndak-ndak to, Mi. Ini...” Pak Kamad mengeluarkan sebuah amplop di saku sebelahnya lagi.
“Ini buat Umi, Insya Allah halal. Tadi saat pulang dari Madrasah, Abah dipanggil Pak Cokro untuk memimpin doa di rumahnya. Hanif, Si Bungsu Pak Cokro ulang tahun.”

“Owalah, Alhamdulillah, Baaaah....” Girang Bu Imah sembari menciumi amplop yang satu itu, usai ia ambil dari tangan Pak Kamad.
“Rejeki istri sholihaaah.”

(bersambung)

By : 




Edisi Sebelumnya : Pak Kamad Part 2


www.kabarmadrasah.com

Terima kasih telah membaca artikel ini, Semoga bermanfaat.
Jangan lupa baca artikel : KH. Ulil Albab Arwani pimpin Bimbingan Muqri' Yanbu'a

Untuk melihat lebih jauh tentang semua postingan blog kabarmadrasah ini,, silakan kunjungi Daftar Isi ]

Semoga bermanfaat dan jangan lupa  klik tombol like dan Share Terima Kasih
Baca selengkapnya ...

21 February 2019

KADO ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Kabarmadrasah.com - 
Di sebuah ruang keluarga yang tak terbilang luas, Pak Kamad bercengkerama pada laptop dengan layar LCD sudah ada dua motif garis hitam. Mungkin sudah waktunya si leppy minta diganti, tapi selama masih bisa dipakai, ia mengabai kebutuhan itu karena cenderung memprioritaskan kebutuhan yang lain dulu.

“Bah...” Bisik Imah, sang istri.
“Ada apa, Umiiii?” Jawab Pak Kamad masih serius memandang layar di depannya.
“Minggu depan hari apa, Bah?” Tanya istri dengan harapan sang suami ingat hari ulang tahun pernikahan mereka.
Tapi Pak Kamad masih asyik dengan laptop-nya.
“Abah dengar gak sih?” Lebih sedikit keras suara sang istri.
“Iya, Abah dengar, Mi. Minggu depan, kan? Kalau ini hari Selasa, minggu depannya ya ketemu Selasa lagi.” Balas Pak Kamad santai.
“Iya hari apa di tanggal itu, Bah?”
“Kalau gak salah Selasa-nya pasaran Legi. Ada apa to, Mi?”
“Ah, Abah gak peka! Itu Selasa hari apa?”
“Selasa ya setelah hari Senin itu to, Mi. Memang ada apa dengan hari Selasa?”
“Abaaaah... Ah sudahlah, Umi mau tidur.”


Jemari Pak Kamad yang tadi mengetik di atas keyboard jadi jeda sejenak, sebenarnya ia hanya berpura-pura lupa hari apa tepat di Selasa itu, karena tak ingin sang istri berharap banyak pada moment ulang tahun pernikahannya. Dalam hati Pak Kamad bergumam,
“Gusti... Astaghfirullahal’adziiiim, Ampuni aku yang membuat jengkel istri, Gustiii.”

Keesokan paginya di Madrasah, Pak Kamad masih terselip rasa bersalahnya pada istri. Dalam benaknya berpikir, wajar kalau di hari ulang tahun pernikahan, sang istri ingin sesuatu yang spesial.
“Sampeyan mikir apa to, Pak Kamad?” Tanya Pak Nur, rekannya sesama pengajar di madrasah.

“Semalam istri ngambek. Sepertinya menginginkan sesuatu di hari ulang tahun pernikahan yang jatuh Selasa depan, Pak Nur.”
“Waduh, itu karena pengaruh teman-temannya mungkin. Lha wong istri saya juga begitu semenjak tak kasih fasilitas smartphone. Teman alumni madrasahnya ada yang posting apa, ia jadi terpengaruh. Padahal dulu ndak pernah mikir soal anniversary-anniversary nan.”
“Istriku yang belum kena polusi smartphone saja sepertinya pengen ada anniversary gitu, Pak Nur. Entah dari infotainment tivi mungkin.”

“Nah, sampeyan kado panci serbaguna saja. Aku dulu gitu. Bu Ida ada nomor kontak sales panci serbaguna tersebut. Biasanya para istri suka dengan alat masak yang serbaguna. Kenapa Pak Kamad tak coba memberi kado barang itu saja. Pasti istri Pak Kamad juga suka.” Saran Pak Nur.
“Wah, ide brillian. Tapi bayarnya?”
“Tenang, boleh nyicil selama setahun.”
“Ajiiib.”

Baca Juga Artikel lainnya :


Tidak perlu menunggu hari Selasa depan, Setelah mengontak si sales, secepat kilat barang itu datang ke madrasah.
“Wah, Pak Kamad romantis sekali.” Ucap Bu Ida.
“Iya, so sweet. Suami sayang istri...” Tambah Bu Mirna.
Pak Kamad menanggapinya dengan tersenyum penuh syukur. Dalam hatinya bergumam,
‘Alhamdulillah... Semoga dengan panci serbaguna ini, Dik Imah bisa lebih bervariasi dalam memasak.’

Tiba di rumah, sang istri berdecak kegirangan. Malah hampir menitikkan air mata haru.
“Abaaaah... Ini apaan?” Ucapnya halus seraya membuka kardus panci serbaguna itu.
“Lho, kan di kardusnya sudah ada gambarnya, Mi.” Balas Pak Kamad.
“Ah, Abah jangan langsung kasih tahu gitu dong. Pura-pura buat kejutan gitu kali, Bah...”

Baca Juga Artikel lainnya :

“Coba aja dibuka, Mi. Kali aja isinya cincin sebesar rantai.” Goda Pak Kamad.
“Ya gak perlu berlebihan gitu juga, Bah.”

Mereka saling bertatapan dengan mesra. Sesimpul senyum saling dilayangkan. Bak Dewi Shinta dan Sang Rama. Duhhh.
“Waooo... Ini beneran Abah kasih ke Umi?” Tanya istri memastikan.
“Masak buat si Ozy, Mi?” Canda Pak Kamad.
“Makasih, Bah. Ini bisa sangat membantu Umi memasak aneka resep. Khususnya dari bahan tahu dan tempe.” Balas Imah.

“Hehe, iya, Mi. Mungkin setelah ini resep tahu tempenya bisa ala ala italian food gitu.” “Abah baik sekali. Betul, Bah. Biar gak bosen dengan menu itu itu saja.” Sejenak bulir air mata Imah menetes. Ia tahu pasti berapa harga panci serbaguna itu. Ia tak pernah meminta kado semewah ini. Ia hanya berharap sang suami ingat perayaan ulang tahun pernikahan. Harusnya itu saja. Tapi ternyata apa yang Pak Kamad berikan di luar perkiraannya. Imah tahu pasti harga barang ini sangat mahal untuk seorang guru honorer seperti suaminya.
“Abah sayang Umi. Selamat hari pernikahan kita, ya. Maaf, Abah masih jauh dari kata sempurna sebagai  seorang suami.”

Mendengar ucapan sang suami, Imah merasa tambah terharu. “Sudah, Bah... Jangan buat Umi tambah nangis karena terharu.”
Pak Kamad merasa lega dengan jawaban istrinya. Tak harus Imah tahu dengan sistem kredit atau kontan membayarnya. Senyum wanita yang dicintai itu lebih berharga bagi Pak Kamad.

“Bah... Uang belanja Umi gak kepotong setelah Abah ngredit panci serbaguna ini, kan? Iya kan, Bah?” Bisik Imah dengan tatapan setajam elang, namun masih dengan bulir air mata di pipi tersebab haru tadi.
Pak Kamad kaget, namun kagetnya tertutupi dengan tampang cengengesannya.
“Hehehe. Tentu tidak to, Mi...” Jawab Pak Kamad garuk-garuk kepala, “Ngomong-ngomong, kok Umi tahu Abah ambil panci ini kredit?”
“Umi kan tahu bulanan Abah berapa. Umi tahu kok sales merk yang sama pernah masuk nawari ke rumah per rumah di kampung ini. Mbak Yanti dan Bu Maya yang beli...” Balas Imah masih sendu.
“Ahhhhh... Tapi Umi percaya cinta Abah kontan seratus persen meskipun kadonya kreditan, kan?” Kembali Pak Kamad bercanda dengan wajah masih cengengesan.
“Abaaaaahhhhhhhh.”

(Bersambung)

www.kabarmadrasah.com

Terima kasih telah membaca artikel ini, Semoga bermanfaat.
Jangan lupa baca artikel : KH. Ulil Albab Arwani pimpin Bimbingan Muqri' Yanbu'a

Untuk melihat lebih jauh tentang semua postingan blog kabarmadrasah ini,, silakan kunjungi Daftar Isi ]

Semoga bermanfaat dan jangan lupa  klik tombol like dan Share Terima Kasih
Baca selengkapnya ...
Designed Template By Blogger Templates - Powered by Kabarmadrasah.com